Tidak terasa sudah memasuki bulan Desember tahun 2008. Sebentar lagi tahun ini akan khatam. Cukup lama tidak menulis di blog ini karena ketagihan nge-plurk dan ditambah musibah laptop kesayangan tersiram air sehingga motherboard-nya koma.
Banyak peristiwa yang terjadi selama saya tidak meng-update blog ini.
Yang terpenting adalah terpilihnya Sutarmidji dan Paryadi sebagai Walikota dan Wakil Walikota Pontianak untuk periode 2008 sampai 2013 nanti. Selamat untuk mereka yang telah menang cukup besar di pilkada kemarin.
Semoga yang dijanjikan di masa kampanye (yang juga dapat dilihat di www.sutarmidji.com) dapat dilaksanakan dengan visi dan misi mereka.
Jangan sampai janji hanya akan sebatas janji semata.
Terus terang yang mereka hadapi akan tambah banyak, karena sepertinya walikota yang sekarang masih menjabat hingga mereka nanti dilantik meninggalkan masalah yang cukup rumit.
Salah satu yang terutama adalah kekumuhan kota dan masalah banjir yang makin kerap menyambangi kota ini.
Bagaimana tidak kumuh, karena tata kota dibiarkan semrawut. Pedagang kakilima mengotori jalanan. Pengemis dan anak-anak terlantar menghiasi wajah kota di tiap perempatan. Sampah meluber hingga ke jalan. Kota ini makin menyedihkan.
Pembangunannya juga berkesan mengorbankan lingkungan.
Coba amati sepanjang jalan H. Rais A. Rahman dan Agus Salim - Diponegoro, pelebaran jalan yang malah mengorbankan parit yang sesungguhnya merupakan asset kota ini. Sesuatu yang istimewa yang dimiliki Pontianak malah di'habisi'. Dengan parit segitu besar saja masih sering kebanjiran, apalagi dengan parit yang semakin mungil. Entah apa yang dipikirkan konseptor perusakan itu?
Lalu liat lagi di jalan Ahmad Yani. Saya tidak tahu itu pekerjaan siapa, tapi pohon-pohon di pinggir jalan ditebangi untuk melebarkan jalan. Trotoar pun menghilang dibantai semen pembuatan jalan.
Benarkah itu semua?
Pontianak, Kote Kite?
Pontianak, ibu kota Provinsi Kalimantan Barat, sebuah kota yang mulai berkembang. Kota yang kadang saya pikir sangat menyedihkan. Bagaimana tidak? Kota yang mulai sering mengalami kemacetan di sana-sini ini penuh dengan segala perilaku dan kejadian yang kadang hanya buat kita mengurut dada.
Coba tanyakan, berapa kali dalam sebulan listrik mendadak padam kepada masyarakatnya? Coba perhatikan kekumuhan yang diakibatkan pengelolaan sampah yang payah, dan PKL yang mengganggu pemandangan, menyedihkan bukan?
Lalu, pernahkah menghitung jumlah gelandangan di persimpangan lampu merah? Pengguna jalan dan lalu lintas kota yang tidak tertib?
Dan tingkat pemakaian narkoba yang tinggi? Banyak masalahnya...
Menyedihkan...
Tapi apapun itu, saya mencintai kota ini. Kota kelahiran saya, tempat menghabiskan banyak waktu saya...
Karena itulah terbetik keinginan untuk mulai menulis catatan-catatan kecil... sekedar pengingat sejarah kota yang saya alami dalam jejak langkah saya.
Dan dengan kerendahan hati, mengharapkan catatan-catatan ini bisa memotivasi kita menjaga dan merawat kota Pontianak. Hingga kita bisa bangga menyatakan bahwa; KOTA PONTIANAK, KOTE KITE semua.
Coba tanyakan, berapa kali dalam sebulan listrik mendadak padam kepada masyarakatnya? Coba perhatikan kekumuhan yang diakibatkan pengelolaan sampah yang payah, dan PKL yang mengganggu pemandangan, menyedihkan bukan?
Lalu, pernahkah menghitung jumlah gelandangan di persimpangan lampu merah? Pengguna jalan dan lalu lintas kota yang tidak tertib?
Dan tingkat pemakaian narkoba yang tinggi? Banyak masalahnya...
Menyedihkan...
Tapi apapun itu, saya mencintai kota ini. Kota kelahiran saya, tempat menghabiskan banyak waktu saya...
Karena itulah terbetik keinginan untuk mulai menulis catatan-catatan kecil... sekedar pengingat sejarah kota yang saya alami dalam jejak langkah saya.
Dan dengan kerendahan hati, mengharapkan catatan-catatan ini bisa memotivasi kita menjaga dan merawat kota Pontianak. Hingga kita bisa bangga menyatakan bahwa; KOTA PONTIANAK, KOTE KITE semua.
4.12.08
27.9.08
Iklan Lowongan Kerja Jaman Belanda
Topik :
Yang Ringan
Iklan Lowongan Kerja - Jaman doeloe THN 1889 diambil dari
perpusnas
(Bayangin Kakek-Nenek kita jaman dulu mungkin ada yg pernah
(dicoba direkrut dgn cara seperti ini)
PENGOEMOEMAN !!!
DAG INLANDER,... ..HAJOO URANG MELAJOE,...KOWE MAHU KERDJA???
GOVERNEMENT NEDERLANDSCH INDIE PERLU KOWE OENTOEK DJADI BOEDAK
ATAOE TJENTENK DI PERKEBOENAN- PERKEBOENAN ONDERNEMING
KEPOENJAAN GOVERNEMENT NEDERLANDSCH
INDIE DJIKA KOWE POENYA SJARAT DAN NJALI
BERIKOET:
1. Kowe poenja tangan koeat dan beroerat
2. Kowe poenja njali gede
3. Kowe poenja moeka kasar
4. Kowe poenja tinggal di wilajah Nederlandsch Indie
5. Kowe boekan kerabat dekat pemberontak- pemberontak
ataoepoen maling ataoepoen mereka jang soedah diberantas
liwat actie politioneel.
6. Kowe beloem djadi boedak nederlander ataoepoen ondernemer
taoe toean tanah ataoe baron eropah.
7. Kowe maoe bekerdja radjin dan netjes.
KOWE INLANDER PERLOE DATANG KE RAWA SENAJAN DISANA KOWE HAROES
DIPILIH
LIWAT DJOERI-DJOERI JANG
BERTOEGAS :
1. Keliling rawa Senajan 3 kali
2. Angkat badan liwat 30 kali
3. Angkat peroet liwat 30 kali
Kowe mesti ketemoe Mevrouw Shanti, Meneer Tomo en Meneer Atmadjaja
Kowe
nanti akan didjadikan
tjentenk oentoek di Toba, Buleleng, Borneo, Tanamera, Batam,
Soerabaja,Batavia en Riaoeeiland.
Governement Nederlandsch Indie memberi oepah :
1. Makan 3 kali perhari dengan beras poetih dari Bangil
2. Istirahat siang 1 uur.
3.Oepah dipotong padjak Governement 40 percent oentoek wang
djago. Haastig kalaoe kowe mahoe..
Pertanggal 31 Maart 1889 Niet
Laat te Zijn Hoor.. Batavia 1889 Onder de naam van
Nederlandsch Indie Governor Generaal H.M.S Van den Bergh S.J.J
de Gooij
perpusnas
(Bayangin Kakek-Nenek kita jaman dulu mungkin ada yg pernah
(dicoba direkrut dgn cara seperti ini)
PENGOEMOEMAN !!!
DAG INLANDER,... ..HAJOO URANG MELAJOE,...KOWE MAHU KERDJA???
GOVERNEMENT NEDERLANDSCH INDIE PERLU KOWE OENTOEK DJADI BOEDAK
ATAOE TJENTENK DI PERKEBOENAN- PERKEBOENAN ONDERNEMING
KEPOENJAAN GOVERNEMENT NEDERLANDSCH
INDIE DJIKA KOWE POENYA SJARAT DAN NJALI
BERIKOET:
1. Kowe poenja tangan koeat dan beroerat
2. Kowe poenja njali gede
3. Kowe poenja moeka kasar
4. Kowe poenja tinggal di wilajah Nederlandsch Indie
5. Kowe boekan kerabat dekat pemberontak- pemberontak
ataoepoen maling ataoepoen mereka jang soedah diberantas
liwat actie politioneel.
6. Kowe beloem djadi boedak nederlander ataoepoen ondernemer
taoe toean tanah ataoe baron eropah.
7. Kowe maoe bekerdja radjin dan netjes.
KOWE INLANDER PERLOE DATANG KE RAWA SENAJAN DISANA KOWE HAROES
DIPILIH
LIWAT DJOERI-DJOERI JANG
BERTOEGAS :
1. Keliling rawa Senajan 3 kali
2. Angkat badan liwat 30 kali
3. Angkat peroet liwat 30 kali
Kowe mesti ketemoe Mevrouw Shanti, Meneer Tomo en Meneer Atmadjaja
Kowe
nanti akan didjadikan
tjentenk oentoek di Toba, Buleleng, Borneo, Tanamera, Batam,
Soerabaja,Batavia en Riaoeeiland.
Governement Nederlandsch Indie memberi oepah :
1. Makan 3 kali perhari dengan beras poetih dari Bangil
2. Istirahat siang 1 uur.
3.Oepah dipotong padjak Governement 40 percent oentoek wang
djago. Haastig kalaoe kowe mahoe..
Pertanggal 31 Maart 1889 Niet
Laat te Zijn Hoor.. Batavia 1889 Onder de naam van
Nederlandsch Indie Governor Generaal H.M.S Van den Bergh S.J.J
de Gooij
22.9.08
Catatan Kecil Mengenai Komitmen
Topik :
Perspektif Saya,
Yang Ringan
Ramadhan ini saya beberapa kali menjadi panitia buka puasa bersama. Baik di kantor, di komunitas dan di lingkungan pertemanan.
Yang paling sukses adalah yang dilakukan oleh komunitas yang saya asuh yaitu di komunitas MIRC #new-pontianak server dalnet.
Kenapa saya bilang sukses? Karena di sana saya bisa mengajak seluruh anggota yang merupakan "adik-adik" saya untuk berkomitmen mensukseskan acara tersebut.
Terus terang saya salut dengan kesungguhan dan semangat mereka semua. Kekompakan yang tercipta dari kebersamaan.
Awalnya hanya rencana untuk berbuka puasa bareng di warung pecel lele lamongan. Ketika saya diajak hanya satu yang saya tanyakan; "Dimana kita akan sholat maghrib?" Karena lokasi warung tersebut lumayan jauh dari mesjid dan mushala.
Ada yang mengusulkan pindah lokasi, ada juga yang terpancing dengan ide yang sebenarnya telah saya siapkan.
"Kenapa kita tidak buka puasa di panti asuhan?"
"Kenapa kita tidak buka bersama anak-anak jalanan?"
Sang founder #new-pontianak, Amar, berkonsultasi kepada saya.
Saya katakan, lebih baik ke panti asuhan saja. Kenapa, Bang? Tanyanya. Alasannya adalah kalau di panti asuhan sasarannya jelas, dan penghuninya InsyaALLAH berpuasa. Kalau anak-anak jalanan? Kadang masih rancu kita menilai, mana anak-anak jalanan mana yang bukan?
Dan saya perhatikan banyak di antara mereka yang tidak berpuasa. Jadi tidak tepat sasaran.
Akhirnya kami setuju untuk buka puasa di panti asuhan. Mulailah panitia kecil berbagi tugas.
Ada yang survei lokasi, ada yang menjadi pengumpul dana, ada yang menyumbangkan tenaga.
Saya tanyakan lagi ke sang founder, berapa banyak kalian akan menyumpang perorangnya?
#new-pontianak ini channel kecil di MIRC, tapi untungnya penghuninya termasuk pemuda-pemudi berani mati. Hehehe. Ya mungkin 20 ribu seorang. Jawab si Amar.
Ok, saya rasa tidak ada masalah. Karena mereka banyak yang masih kuliah dan sekolah. Yang bekerja cuma beberapa gelintir.
Gini saja, Mar. Kumpulkan saja yang ada, nanti saya usahakan dana dari para donatur baik di lingkungan pertemanan saya maupun di kantor.
Mereka tambah semangat. Apalagi saya katakan bahwa sebaiknya tidak sekedar berbuka puasa, tapi ada sumbangan kecil yang dapat kita sampaikan kepada mereka.
Alhamdulillah, dari beberapa teman kami di seluruh Indonesia, didapatkan dana yang di luar perkiraan kami. ( Terima kasih untuk Eva, Uul, Fitri, Dewi, Mas Nury, Marylin, Adel, Iwan, Sri dan Pak Rahman serta Ibu Kartini ).
Rencana semula kami hanya buka puasa dan menyumbang di Panti Asuhan Sy. Hidayatullah Jl. H. Rais A. Rahman Gg. Gunung Sahari Pontianak. Namun setelah melihat dana yang terkumpul, saya ambil keputusan untuk membagi 2 dana yang akan kami sumbangkan. Alhamdulillah sumbangan kami dapat juga dinikmati anak-anak Panti Asuhan Al Amien Jl. Danau Sentarum, Pontianak.
Melihat kegembiraan di wajah mereka, anak-anak panti asuhan tersebut, kami bahagia sekali. Memang tidak banyak yang bisa kami sumbangkan, tidak juga mewah yang kami hidangkan.
Namun kami dapat merasakan syukur yang besar, dan kami merasakan betapa beruntungnya kami.
Malah ada sisa uang yang saya tidak hitung jumlahnya akhirnya saya titipkan di Masjid Baiturrahim yang sedang membangun lebih besar rumah ibadah itu.
Buka puasa yang kedua diadakan di kantor saya. Tugas saya hanya bagian dokumentasi, karena memang itu yang jadi keahlian saya. Hehehe. Maklumlah, no skill. Hehehe. Juga mencari ustadz yang akan memberikan tausiah sebelum berbuka. Ustadz sudah ok dan 'reserved' untuk tanggal 21 September, karena permintaan salah seorang pemegang saham di kantor saya, acara dimajukan menjadi hari Jumat 19 September. Waduh... Saya kelabakan. Saya sudah komitmen untuk meminta Ustadz tersebut untuk menyirami kami dengan petuah bijak. Ustadz ini cukup terpandang, kalau acuannya adalah jumlah penampilannya di TVRI Kalbar. Saya sempat malu karena sudah komitmen untuk itu. Dan karena tanggal 19 beliau tidak bisa, sang ketua panitia meminta penceramah lain.
Di saat ketar-ketir karena akan membatalkan sang ustadz, bantuan tak terduga datang dari sahabat saya Drajad. Dia meminta saya menjadi EO untuk acara buka bersama antara 'kelompok'nya dan crew `Ra entertainment. Sahabat saya ini dan teman-temannya menjadi konsultan di sebuah dinas provinsi Kalimantan Barat. Surprise juga saya, ada usulan untuk memakai jasa ustadz untuk tausiah. Good good good. Sedikit pembicaraan menarik mengenai honor ustadz ini. Ketika saya sampaikan sejumlah nominal, ada gurauan terlontar. Mahal, ya?
Saya hanya tersenyum, terus menjawab, Boss kalau untuk purel di karaoke kita mau kasi uang tips yang gede kenapa harga segitu untuk ustadz kita pikir kemahalan?
Telak. Dana yang saya ajukan goal. Hehehe. Thanks brothers!!!
Acarapun saya susun. Tempat saya tentukan dan saya order. Makanan buat tajil saya pesan yang lumayan terkenal. Dan sang ustadz saya konfirmasikan untuk hadir. Beliau menyatakan kesiapannya dan mengatakan bahwa pada hari itu tidak ada ceramah di tempat lain. Saya kabari Pak Drajad yang langsung menyiapkan dana sesuai dengan yang kami sepakati. Saya senang sekali. Bakalan sukses acara kali ini. Buka puasa di cafe, pakai ceramah. Ok juga kayaknya. Sebenarnya sih bukan cafe lah, kelas rumah makan biasa. Cuma orang Pontianak sudah terlanjur mengenal tempat-tempat sejenis sebagai cafe. It's okay.
Kemarin, Minggu 21 September, saya siapkan semua yang di list saya.
Masalah ternyata muncul dari sang ustadz. Kami tunggu di tempat yang dijanjikan beliau yang terhormat tidak muncul-muncul. Kami telpon. Beliau mengatakan tidak bisa hadir.
Waduh. Kredibilitas saya jadi tercoreng. Ingin marah, tapi saya sedang puasa. Dan beliau teman baik ayah saya. Akhirnya dengan menyesal saya katakan bahwa sang ustadz berhalangan karena harus memberi ceramah di tempat lain. Untunglah mereka paham. Sempat disindir kalau saya lupa membayar panjar ustadz karena persiapan lain saya talangi uang DP-nya. Tapi masa sih ustadz jaman sekarang minta di-DP? Gak mungkin khan? Ujung-ujungnya kami hanya diskusi. Macam-macamlah. Bisnis. Pertemanan. Wanita (padahal semua sudah gak single!!! laki-laki laki-laki!!! kacau). Rokok. Dan lain-lain yang gak penting.
Acara sukses, alhamdulillah. Tidak ada protes soal makanan dan lokasi.
Oh iya, pada saat yang sama sebenarnya saya ada undangan dari rekan-rekan di pcyco (pontianak cyber community), namun karena saya sudah komitmen sama Pak Drajad dan kawan-kawan, terpaksa acara buka puasa bersama mereka saya tidak dapat hadir. Tapi saya janji akan singgah ke markas mereka.
Ok, sekarang saya membahas kekecewaan saya.
Kenapa kita sulit memegang komitmen? Saya sudah komitmen dengan sang ustadz untuk hadir di acara kami. Beliau juga sudah bilang hari itu lowong. Hanya kami yang booking (kasar gak sih istilah booking ini?) beliau. Bahkan beliau bilang demi rasa hormat kepada ayah saya, beliau mau datang. Itu komitmen khan?
Tapi mengapa dengan gampang dibatalkan?
Ok, mungkin kami cuma segelintir orang. Tidak seperti di tempat yang memanggilnya kemudian. Mungkin lebih ramai. Mungkin lebih massal. Ok. Tapi khan komitmen tidak boleh dilanggar?
Mungkin kami tidak dapat memberikan tanda terima kasih yang besar. Mungkin dan segala macam mungkin yang nantinya akan jadi 'penyakit' di jiwa saya. Sudahlah. Lupakan.
Kita bahas komitmen saja.
Kecewa itu jelas ada. Karena juga sedikit banyak menyangkut kredibilitas saya.
Untung di kalangan teman-teman baik. Kalau saya komitmennya sama orang luar bagaimana?
Terus Pak Haji ini, menjanjikan pengganti, ada tidak ada akan konfirmasi ke kami. Ternyata sampai kami bubaran tidak ada beliau menghubungi kami.
Ya sudahlah.
Dana yang dititipkan pada saya untuk pengganti uang bensin (waduh, bensin Xenia saja akan luber kalau dibelikan sejumlah itu) hendak saya kembalikan ke Pak Drajad yang baik hati itu. Beliau bilang disalurkan saja. Alhamdulillah. InsyaALLAH akan dilaksanakan. Terima kasih untuk Pak Drajad dan teman-temannya.
Kembali ke persoalan komitmen, kadang saya cukup direpotkan oleh hal-hal seperti ini dalam bisnis kecil-kecilan saya. Ada beberapa order yang saya serahkan ke teman-teman, berbagi rejeki, malah di'curangi' seenaknya sendiri. Saya komitmen menggunakan jasa mereka, harga sudah disepakati, begitu mendapat kerjaan lain yang jumlahnya besar, pasti akan dengan gampang komitmen itu dilanggar.
Menyebalkan.
Untuk itu saya wanti-wanti kepada crew saya, untuk dapat memegang janji dan komitmen yang telah dibuat. Jangan silau oleh jumlah yang lebih dari komitmen awal. Kerjakan dengan sungguh-sungguh. Kalau komitmen kita bagus, insyaALLAH para klien pasti akan RO (repeat order) kepada kita. Dan ini telah saya buktikan sendiri.
Untunglah mereka mau mengerti dan mendukung saya. Thanks guys!!!
Bertepatan dengan Ramadhan, saat yang tepat untuk berkomitmen. Puasa itu khan komitmen. Shaum itu janji dan niat.
Mari kita bersama latih diri kita untuk berkomitmen. Dari hal yang kecil saja. Contoh soal kepada rekan-rekan yang perokok, kalau shaum di siang hari bisa tuh berhenti merokok. Kenapa setelah berbuka malah rokok yang pertama kali dibakar?
Tanya kenapa?!!!
Salam.
Yang paling sukses adalah yang dilakukan oleh komunitas yang saya asuh yaitu di komunitas MIRC #new-pontianak server dalnet.
Kenapa saya bilang sukses? Karena di sana saya bisa mengajak seluruh anggota yang merupakan "adik-adik" saya untuk berkomitmen mensukseskan acara tersebut.
Terus terang saya salut dengan kesungguhan dan semangat mereka semua. Kekompakan yang tercipta dari kebersamaan.
Awalnya hanya rencana untuk berbuka puasa bareng di warung pecel lele lamongan. Ketika saya diajak hanya satu yang saya tanyakan; "Dimana kita akan sholat maghrib?" Karena lokasi warung tersebut lumayan jauh dari mesjid dan mushala.
Ada yang mengusulkan pindah lokasi, ada juga yang terpancing dengan ide yang sebenarnya telah saya siapkan.
"Kenapa kita tidak buka puasa di panti asuhan?"
"Kenapa kita tidak buka bersama anak-anak jalanan?"
Sang founder #new-pontianak, Amar, berkonsultasi kepada saya.
Saya katakan, lebih baik ke panti asuhan saja. Kenapa, Bang? Tanyanya. Alasannya adalah kalau di panti asuhan sasarannya jelas, dan penghuninya InsyaALLAH berpuasa. Kalau anak-anak jalanan? Kadang masih rancu kita menilai, mana anak-anak jalanan mana yang bukan?
Dan saya perhatikan banyak di antara mereka yang tidak berpuasa. Jadi tidak tepat sasaran.
Akhirnya kami setuju untuk buka puasa di panti asuhan. Mulailah panitia kecil berbagi tugas.
Ada yang survei lokasi, ada yang menjadi pengumpul dana, ada yang menyumbangkan tenaga.
Saya tanyakan lagi ke sang founder, berapa banyak kalian akan menyumpang perorangnya?
#new-pontianak ini channel kecil di MIRC, tapi untungnya penghuninya termasuk pemuda-pemudi berani mati. Hehehe. Ya mungkin 20 ribu seorang. Jawab si Amar.
Ok, saya rasa tidak ada masalah. Karena mereka banyak yang masih kuliah dan sekolah. Yang bekerja cuma beberapa gelintir.
Gini saja, Mar. Kumpulkan saja yang ada, nanti saya usahakan dana dari para donatur baik di lingkungan pertemanan saya maupun di kantor.
Mereka tambah semangat. Apalagi saya katakan bahwa sebaiknya tidak sekedar berbuka puasa, tapi ada sumbangan kecil yang dapat kita sampaikan kepada mereka.
Alhamdulillah, dari beberapa teman kami di seluruh Indonesia, didapatkan dana yang di luar perkiraan kami. ( Terima kasih untuk Eva, Uul, Fitri, Dewi, Mas Nury, Marylin, Adel, Iwan, Sri dan Pak Rahman serta Ibu Kartini ).
Rencana semula kami hanya buka puasa dan menyumbang di Panti Asuhan Sy. Hidayatullah Jl. H. Rais A. Rahman Gg. Gunung Sahari Pontianak. Namun setelah melihat dana yang terkumpul, saya ambil keputusan untuk membagi 2 dana yang akan kami sumbangkan. Alhamdulillah sumbangan kami dapat juga dinikmati anak-anak Panti Asuhan Al Amien Jl. Danau Sentarum, Pontianak.
Melihat kegembiraan di wajah mereka, anak-anak panti asuhan tersebut, kami bahagia sekali. Memang tidak banyak yang bisa kami sumbangkan, tidak juga mewah yang kami hidangkan.
Namun kami dapat merasakan syukur yang besar, dan kami merasakan betapa beruntungnya kami.
Malah ada sisa uang yang saya tidak hitung jumlahnya akhirnya saya titipkan di Masjid Baiturrahim yang sedang membangun lebih besar rumah ibadah itu.
Buka puasa yang kedua diadakan di kantor saya. Tugas saya hanya bagian dokumentasi, karena memang itu yang jadi keahlian saya. Hehehe. Maklumlah, no skill. Hehehe. Juga mencari ustadz yang akan memberikan tausiah sebelum berbuka. Ustadz sudah ok dan 'reserved' untuk tanggal 21 September, karena permintaan salah seorang pemegang saham di kantor saya, acara dimajukan menjadi hari Jumat 19 September. Waduh... Saya kelabakan. Saya sudah komitmen untuk meminta Ustadz tersebut untuk menyirami kami dengan petuah bijak. Ustadz ini cukup terpandang, kalau acuannya adalah jumlah penampilannya di TVRI Kalbar. Saya sempat malu karena sudah komitmen untuk itu. Dan karena tanggal 19 beliau tidak bisa, sang ketua panitia meminta penceramah lain.
Di saat ketar-ketir karena akan membatalkan sang ustadz, bantuan tak terduga datang dari sahabat saya Drajad. Dia meminta saya menjadi EO untuk acara buka bersama antara 'kelompok'nya dan crew `Ra entertainment. Sahabat saya ini dan teman-temannya menjadi konsultan di sebuah dinas provinsi Kalimantan Barat. Surprise juga saya, ada usulan untuk memakai jasa ustadz untuk tausiah. Good good good. Sedikit pembicaraan menarik mengenai honor ustadz ini. Ketika saya sampaikan sejumlah nominal, ada gurauan terlontar. Mahal, ya?
Saya hanya tersenyum, terus menjawab, Boss kalau untuk purel di karaoke kita mau kasi uang tips yang gede kenapa harga segitu untuk ustadz kita pikir kemahalan?
Telak. Dana yang saya ajukan goal. Hehehe. Thanks brothers!!!
Acarapun saya susun. Tempat saya tentukan dan saya order. Makanan buat tajil saya pesan yang lumayan terkenal. Dan sang ustadz saya konfirmasikan untuk hadir. Beliau menyatakan kesiapannya dan mengatakan bahwa pada hari itu tidak ada ceramah di tempat lain. Saya kabari Pak Drajad yang langsung menyiapkan dana sesuai dengan yang kami sepakati. Saya senang sekali. Bakalan sukses acara kali ini. Buka puasa di cafe, pakai ceramah. Ok juga kayaknya. Sebenarnya sih bukan cafe lah, kelas rumah makan biasa. Cuma orang Pontianak sudah terlanjur mengenal tempat-tempat sejenis sebagai cafe. It's okay.
Kemarin, Minggu 21 September, saya siapkan semua yang di list saya.
Masalah ternyata muncul dari sang ustadz. Kami tunggu di tempat yang dijanjikan beliau yang terhormat tidak muncul-muncul. Kami telpon. Beliau mengatakan tidak bisa hadir.
Waduh. Kredibilitas saya jadi tercoreng. Ingin marah, tapi saya sedang puasa. Dan beliau teman baik ayah saya. Akhirnya dengan menyesal saya katakan bahwa sang ustadz berhalangan karena harus memberi ceramah di tempat lain. Untunglah mereka paham. Sempat disindir kalau saya lupa membayar panjar ustadz karena persiapan lain saya talangi uang DP-nya. Tapi masa sih ustadz jaman sekarang minta di-DP? Gak mungkin khan? Ujung-ujungnya kami hanya diskusi. Macam-macamlah. Bisnis. Pertemanan. Wanita (padahal semua sudah gak single!!! laki-laki laki-laki!!! kacau). Rokok. Dan lain-lain yang gak penting.
Acara sukses, alhamdulillah. Tidak ada protes soal makanan dan lokasi.
Oh iya, pada saat yang sama sebenarnya saya ada undangan dari rekan-rekan di pcyco (pontianak cyber community), namun karena saya sudah komitmen sama Pak Drajad dan kawan-kawan, terpaksa acara buka puasa bersama mereka saya tidak dapat hadir. Tapi saya janji akan singgah ke markas mereka.
Ok, sekarang saya membahas kekecewaan saya.
Kenapa kita sulit memegang komitmen? Saya sudah komitmen dengan sang ustadz untuk hadir di acara kami. Beliau juga sudah bilang hari itu lowong. Hanya kami yang booking (kasar gak sih istilah booking ini?) beliau. Bahkan beliau bilang demi rasa hormat kepada ayah saya, beliau mau datang. Itu komitmen khan?
Tapi mengapa dengan gampang dibatalkan?
Ok, mungkin kami cuma segelintir orang. Tidak seperti di tempat yang memanggilnya kemudian. Mungkin lebih ramai. Mungkin lebih massal. Ok. Tapi khan komitmen tidak boleh dilanggar?
Mungkin kami tidak dapat memberikan tanda terima kasih yang besar. Mungkin dan segala macam mungkin yang nantinya akan jadi 'penyakit' di jiwa saya. Sudahlah. Lupakan.
Kita bahas komitmen saja.
Kecewa itu jelas ada. Karena juga sedikit banyak menyangkut kredibilitas saya.
Untung di kalangan teman-teman baik. Kalau saya komitmennya sama orang luar bagaimana?
Terus Pak Haji ini, menjanjikan pengganti, ada tidak ada akan konfirmasi ke kami. Ternyata sampai kami bubaran tidak ada beliau menghubungi kami.
Ya sudahlah.
Dana yang dititipkan pada saya untuk pengganti uang bensin (waduh, bensin Xenia saja akan luber kalau dibelikan sejumlah itu) hendak saya kembalikan ke Pak Drajad yang baik hati itu. Beliau bilang disalurkan saja. Alhamdulillah. InsyaALLAH akan dilaksanakan. Terima kasih untuk Pak Drajad dan teman-temannya.
Kembali ke persoalan komitmen, kadang saya cukup direpotkan oleh hal-hal seperti ini dalam bisnis kecil-kecilan saya. Ada beberapa order yang saya serahkan ke teman-teman, berbagi rejeki, malah di'curangi' seenaknya sendiri. Saya komitmen menggunakan jasa mereka, harga sudah disepakati, begitu mendapat kerjaan lain yang jumlahnya besar, pasti akan dengan gampang komitmen itu dilanggar.
Menyebalkan.
Untuk itu saya wanti-wanti kepada crew saya, untuk dapat memegang janji dan komitmen yang telah dibuat. Jangan silau oleh jumlah yang lebih dari komitmen awal. Kerjakan dengan sungguh-sungguh. Kalau komitmen kita bagus, insyaALLAH para klien pasti akan RO (repeat order) kepada kita. Dan ini telah saya buktikan sendiri.
Untunglah mereka mau mengerti dan mendukung saya. Thanks guys!!!
Bertepatan dengan Ramadhan, saat yang tepat untuk berkomitmen. Puasa itu khan komitmen. Shaum itu janji dan niat.
Mari kita bersama latih diri kita untuk berkomitmen. Dari hal yang kecil saja. Contoh soal kepada rekan-rekan yang perokok, kalau shaum di siang hari bisa tuh berhenti merokok. Kenapa setelah berbuka malah rokok yang pertama kali dibakar?
Tanya kenapa?!!!
Salam.
21.9.08
Black Device... Behati-hatilah.
Topik :
Yang Ringan
Alat ini dicolok diujung kable keyboard yg terhubung ke PC, ini digunakan untuk menyimpan semua yg telah diketik oleh keyboard itu...


Kebanyakan ini dipakai di internet kafe, pameran, hotel dan bandara. Maka berhati2lah terutama anda yg menggunakan internet di tempat seperti itu untuk mengakses account bank online atau site penting lainnya.
Setelah anda masuk ke account bank, dan setelah selesai, meninggalkan PC, itu akan dgn mudahnya untuk membuka account itu kembali dgn apa yg sebelumnya anda ketik, yg telah tersimpan di dlm Black Device.
Jadi, sebaiknya anda cek dlu PC nya apakah ada sesuatu yg mencurigakan di belakangnya sebelum menggunakan internet di tempat umum untuk mengakses site penting
Semoga informasi ini berguna untuk anda semua.. dan mencegah terjadinya hal2 yg tdk diinginkan


Kebanyakan ini dipakai di internet kafe, pameran, hotel dan bandara. Maka berhati2lah terutama anda yg menggunakan internet di tempat seperti itu untuk mengakses account bank online atau site penting lainnya.
Setelah anda masuk ke account bank, dan setelah selesai, meninggalkan PC, itu akan dgn mudahnya untuk membuka account itu kembali dgn apa yg sebelumnya anda ketik, yg telah tersimpan di dlm Black Device.
Jadi, sebaiknya anda cek dlu PC nya apakah ada sesuatu yg mencurigakan di belakangnya sebelum menggunakan internet di tempat umum untuk mengakses site penting
Semoga informasi ini berguna untuk anda semua.. dan mencegah terjadinya hal2 yg tdk diinginkan
11.9.08
Pontianak, Kota Para Pemalas
Judul yang ekstrim ya?
Baca dulu barulah mengerti...
Saya pikir Pontianak ini kota yang isinya dipenuhi pemalas.
Mau lihat buktinya?
Coba keluar pagi-pagi, ke kantor atau ke sekolah atau kemana saja...
Perhatikan lalu lintasnya.
Luar biasa kacau!!!
Yang punya motor kayaknya malas untuk menginjak rem ketika ada orang menyebrang, padahal mereka bawa motor cukup laju. Mereka lebih suka untuk meliukkan motornya dan membahayakan pengemudi lainnya.
Apa mereka gak baca di koran lokal kalau dua bulan ini jumlah angka kecelakaan di Pontianak dan sekitarnya menaik tajam?!!!
Coba perhatikan lagi di persimpangan yang ada lampu lalu lintasnya.
Lihat kemalasan orang-orang. Malas untuk tertib berhenti di belakang marka yang telah ditetapkan. Mereka seenak udelnya berhenti di depan tiang lampu merah?!!!
Atau lebih gila lagi, mereka malas menunggu lampu merah menjadi hijau!!!
Mungkin dipikirnya nyawa ada di jual di pasar Flamboyan (yang sedang bermasalah) atau pasar Dahlia.
Belum lagi aparat-aparat yang malas mengurus lalu lintas yang semrawut.
Oh my GOD!!!
Beberapa hari yang lalu ada kejadian menyebalkan menjelang berbuka. Sepertinya sang gubernur mengadakan buka puasa bersama (Salut!!! Secara beliau dan wakilnya non muslim)
Yang bikin kesel adalah ketika mereka hendak lewat, beberapa PM menghentikan kendaraan yang dari arah jalan Veteran. Ok... sebagai warga yang menghormati gubernurnya (yang konvoi lengkap dengan ambulan segala -alamak, dia sakit apa sih?- ), semua orang mengalah. eh tak tahunya setelah sang gubernur dan rombongan tiba, si polantas dan PM yang bertugas meninggalkan jalanan begitu saja!!!
Malas banget sih mengatur kembali arus lalu lintas agar lancar!!!
Lihat lagi pemalas-pemalas yang kerjanya cuma meminta-minta di persimpangan.
Lihat mereka yang sehat wal afiat itu!!! Makin hari makin tambah banyak saja!!!
Terus lihat pemerintah yang juga malas banget memperhatikan kota ini.
Pengangkut sampah yang malas sehingga membiarkan saja jalan-jalan dipenuhi buangan rumah tangga dan perkantoran.
Pemerintah yang cuma bisa mimpi membangun proyek mercu suar dengan dana berlimpah.
Kalau ada uangnya saja, mereka gak akan malas memikirkannya.
Semoga saja mereka malas untuk memikirkan cara korupsi selanjutnya!!!
mestinya pemerintah tidak malas berpikir. Cari solusi untuk pedagang kaki lima yang bikin kota ini tambah kumuh.
Cari solusi agar tidak ada parit yang dikecilkan demi pembangunan.
Cari solusi agar tidak ada banjir ketika hujan diberikan Tuhan.
Jangan malas berpikir!!!! Lah, pemerintah dan aparatkan dibayar untuk berpkir, kemudian bekerja keras untuk itu.
Jalanlah di Pontianak ini... perhatikan banyak sekali orang yang dengan seenak udelnya membuang sampah dari jendela mobilnya.
Malas banget sih ngumpulin dulu sampah itu?
Ok yang buang mungkin anaknya... Malas banget sih ngajarin anak buang sampah yang benar?!!!
Pontianak ini isinya orang pemalas...
Mau bukti apalagi?
Yang lagi ngetrend sekarang?
Pilwako misalnya?
Ada yang berani debat saya?
Saya bilang gini... Ada calon walikota yang malas mengikuti aturan yang berlaku untuk maju menjadi cawako.
Gak usah sebut namalah, tahu sama tahu saja.
Nah... kalau untuk jadi walikota saja dia sudah malas untuk 'melamar' suatu partai, trus tiba-tiba jadi cawako mutlak. Tanya kenapa?
Jawabannya cuma 1. Malas!!!
Nanti setelah ALLAH SWT berkata "Kun Fa Yakun" dan dia jadi... Apa nanti malah gak malas mikirin penduduk Pontianak?
Saya salut dengan beberapa kandidat yang merangkak untuk akhirnya jadi cawako.
Jadi wajar kalau saya bilang Kota Pontianak kotanya para pemalas.
Mungkin terlalu apriori... tapi kita boleh berpendapat khan?
Solusinya bagaimana?
Biar walikota yang baru memikirkannya... Jika gak bisa menemukan jawabannya, barulah kita bahas di blog ini.
*Beberapa pemikiran sederhana sudah dipakai beberapa kandidat, mungkin sama dalam pemikiran, tapi tak tertutup kemungkinan dapatnya dari pembicaraan dengan team sukses saya... Hehehe... Mengigau lagi aja ah...*
Baca dulu barulah mengerti...
Saya pikir Pontianak ini kota yang isinya dipenuhi pemalas.
Mau lihat buktinya?
Coba keluar pagi-pagi, ke kantor atau ke sekolah atau kemana saja...
Perhatikan lalu lintasnya.
Luar biasa kacau!!!
Yang punya motor kayaknya malas untuk menginjak rem ketika ada orang menyebrang, padahal mereka bawa motor cukup laju. Mereka lebih suka untuk meliukkan motornya dan membahayakan pengemudi lainnya.
Apa mereka gak baca di koran lokal kalau dua bulan ini jumlah angka kecelakaan di Pontianak dan sekitarnya menaik tajam?!!!
Coba perhatikan lagi di persimpangan yang ada lampu lalu lintasnya.
Lihat kemalasan orang-orang. Malas untuk tertib berhenti di belakang marka yang telah ditetapkan. Mereka seenak udelnya berhenti di depan tiang lampu merah?!!!
Atau lebih gila lagi, mereka malas menunggu lampu merah menjadi hijau!!!
Mungkin dipikirnya nyawa ada di jual di pasar Flamboyan (yang sedang bermasalah) atau pasar Dahlia.
Belum lagi aparat-aparat yang malas mengurus lalu lintas yang semrawut.
Oh my GOD!!!
Beberapa hari yang lalu ada kejadian menyebalkan menjelang berbuka. Sepertinya sang gubernur mengadakan buka puasa bersama (Salut!!! Secara beliau dan wakilnya non muslim)
Yang bikin kesel adalah ketika mereka hendak lewat, beberapa PM menghentikan kendaraan yang dari arah jalan Veteran. Ok... sebagai warga yang menghormati gubernurnya (yang konvoi lengkap dengan ambulan segala -alamak, dia sakit apa sih?- ), semua orang mengalah. eh tak tahunya setelah sang gubernur dan rombongan tiba, si polantas dan PM yang bertugas meninggalkan jalanan begitu saja!!!
Malas banget sih mengatur kembali arus lalu lintas agar lancar!!!
Lihat lagi pemalas-pemalas yang kerjanya cuma meminta-minta di persimpangan.
Lihat mereka yang sehat wal afiat itu!!! Makin hari makin tambah banyak saja!!!
Terus lihat pemerintah yang juga malas banget memperhatikan kota ini.
Pengangkut sampah yang malas sehingga membiarkan saja jalan-jalan dipenuhi buangan rumah tangga dan perkantoran.
Pemerintah yang cuma bisa mimpi membangun proyek mercu suar dengan dana berlimpah.
Kalau ada uangnya saja, mereka gak akan malas memikirkannya.
Semoga saja mereka malas untuk memikirkan cara korupsi selanjutnya!!!
mestinya pemerintah tidak malas berpikir. Cari solusi untuk pedagang kaki lima yang bikin kota ini tambah kumuh.
Cari solusi agar tidak ada parit yang dikecilkan demi pembangunan.
Cari solusi agar tidak ada banjir ketika hujan diberikan Tuhan.
Jangan malas berpikir!!!! Lah, pemerintah dan aparatkan dibayar untuk berpkir, kemudian bekerja keras untuk itu.
Jalanlah di Pontianak ini... perhatikan banyak sekali orang yang dengan seenak udelnya membuang sampah dari jendela mobilnya.
Malas banget sih ngumpulin dulu sampah itu?
Ok yang buang mungkin anaknya... Malas banget sih ngajarin anak buang sampah yang benar?!!!
Pontianak ini isinya orang pemalas...
Mau bukti apalagi?
Yang lagi ngetrend sekarang?
Pilwako misalnya?
Ada yang berani debat saya?
Saya bilang gini... Ada calon walikota yang malas mengikuti aturan yang berlaku untuk maju menjadi cawako.
Gak usah sebut namalah, tahu sama tahu saja.
Nah... kalau untuk jadi walikota saja dia sudah malas untuk 'melamar' suatu partai, trus tiba-tiba jadi cawako mutlak. Tanya kenapa?
Jawabannya cuma 1. Malas!!!
Nanti setelah ALLAH SWT berkata "Kun Fa Yakun" dan dia jadi... Apa nanti malah gak malas mikirin penduduk Pontianak?
Saya salut dengan beberapa kandidat yang merangkak untuk akhirnya jadi cawako.
Jadi wajar kalau saya bilang Kota Pontianak kotanya para pemalas.
Mungkin terlalu apriori... tapi kita boleh berpendapat khan?
Solusinya bagaimana?
Biar walikota yang baru memikirkannya... Jika gak bisa menemukan jawabannya, barulah kita bahas di blog ini.
*Beberapa pemikiran sederhana sudah dipakai beberapa kandidat, mungkin sama dalam pemikiran, tapi tak tertutup kemungkinan dapatnya dari pembicaraan dengan team sukses saya... Hehehe... Mengigau lagi aja ah...*
10.9.08
Kisah dari Andy F. Noya [www.kickandy.com]
Topik :
Mencoba untuk Bijak
Kaca Spion
Sejak bekerja saya tidak pernah lagi berkunjung ke Perpustakaan Soemantri Brodjonegoro di Jalan Rasuna Said, Jakarta . Tapi, suatu hari ada kerinduan dan dorongan yang luar biasa untuk ke sana . Bukan untuk baca buku, melainkan makan gado-gado di luar pagar perpustakaan. Gado-gado yang dulu selalu membuat saya ngiler. Namun baru dua tiga suap, saya merasa gado-gado yang masuk ke mulut jauh dari bayangan masa lalu. Bumbu kacang yang dulu ingin saya jilat sampai piringnya mengkilap, kini rasanya amburadul. Padahal ini gado-gado yang saya makan dulu. Kain penutup hitamnya sama. Penjualnya juga masih sama. Tapi mengapa rasanya jauh berbeda?
Malamnya, soal gado-gado itu saya ceritakan kepada istri. Bukan soal rasanya yang mengecewakan, tetapi ada hal lain yang membuat saya gundah.
Sewaktu kuliah, hampir setiap siang, sebelum ke kampus saya selalu mampir ke perpustakaan Soemantri Brodjonegoro. Ini tempat favorit saya. Selain karena harus menyalin bahan-bahan pelajaran dari buku-buku wajib yang tidak mampu saya beli, berada di antara ratusan buku membuat saya merasa begitu bahagia. Biasanya satu sampai dua jam saya di sana . Jika masih ada waktu, saya melahap buku-buku yang saya minati. Bau harum buku, terutama buku baru, sungguh membuat pikiran terang dan hati riang. Sebelum meninggalkan perpustakaan, biasanya saya singgah di gerobak gado-gado di sudut jalan, di luar pagar. Kain penutupnya khas, warna hitam. Menurut saya, waktu itu, inilah gado-gado paling enak seantero Jakarta . Harganya Rp 500 sepiring sudah termasuk lontong. Makan sepiring tidak akan pernah puas. Kalau ada uang lebih, saya pasti nambah satu piring lagi. Tahun berganti tahun. Drop out dari kuliah, saya bekerja di Majalah TEMPO sebagai reporter buku Apa dan Siapa Orang Indonesia . Kemudian pindah menjadi reporter di Harian Bisnis Indonesia . Setelah itu menjadi redaktur di Majalah MATRA. Karir saya terus meningkat hingga menjadi pemimpin redaksi di Harian Media Indonesia dan Metro TV.
Sampai suatu hari, kerinduan itu datang. Saya rindu makan gado-gado di sudut jalan itu. Tetapi ketika rasa gado-gado berubah drastis, saya menjadi gundah. Kegundahan yang aneh. Kepada istri saya utarakan kegundahan tersebut. Saya risau saya sudah berubah dan tidak lagi menjadi diri saya sendiri. Padahal sejak kecil saya berjanji jika suatu hari kelak saya punya penghasilan yang cukup, punya mobil sendiri, dan punya rumah sendiri, saya tidak ingin berubah. Saya tidak ingin menjadi sombong karenanya.
Hal itu berkaitan dengan pengalaman masa kecil saya di Surabaya . Sejak kecil saya benci orang kaya. Ada kejadian yang sangat membekas dan menjadi trauma masa kecil saya. Waktu itu umur saya sembilan tahun. Saya bersama seorang teman berboncengan sepeda hendak bermain bola. Sepeda milik teman yang saya kemudikan menyerempet sebuah mobil. Kaca spion mobil itu patah.
Begitu takutnya, bak kesetanan saya berlari pulang. Jarak 10 kilometer saya tempuh tanpa berhenti. Hampir pingsan rasanya. Sesampai di rumah saya langsung bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Upaya yang sebenarnya sia-sia. Sebab waktu itu kami hanya tinggal di sebuah garasi mobil, di Jalan Prapanca. Garasi mobil itu oleh pemiliknya disulap menjadi kamar untuk disewakan kepada kami. Dengan ukuran kamar yang cuma enam kali empat meter, tidak akan sulit menemukan saya. Apalagi tempat tidur di mana saya bersembunyi adalah satu-satunya tempat tidur di ruangan itu. Tak lama kemudian, saya mendengar keributan di luar. Rupanya sang pemilik mobil datang. Dengan suara keras dia marah-marah dan mengancam ibu saya. Intinya dia meminta ganti rugi atas kerusakan mobilnya.
Pria itu, yang cuma saya kenali dari suaranya yang keras dan tidak bersahabat, akhirnya pergi setelah ibu berjanji akan mengganti kaca spion mobilnya. Saya ingat harga kaca spion itu Rp 2.000. Tapi uang senilai itu, pada tahun 1970, sangat besar. Terutama bagi ibu yang mengandalkan penghasilan dari menjahit baju. Sebagai gambaran, ongkos menjahit baju waktu itu Rp 1.000 per potong. Satu baju memakan waktu dua minggu. Dalam sebulan, order jahitan tidak menentu. Kadang sebulan ada tiga, tapi lebih sering cuma satu. Dengan penghasilan dari menjahit itulah kami – ibu, dua kakak, dan saya – harus bisa bertahan hidup sebulan.
Setiap bulan ibu harus mengangsur ganti rugi kaca spion tersebut. Setiap akhir bulan sang pemilik mobil, atau utusannya, datang untuk mengambil uang. Begitu berbulan-bulan. Saya lupa berapa lama ibu harus menyisihkan uang untuk itu. Tetapi rasanya tidak ada habis-habisnya. Setiap akhir bulan, saat orang itu datang untuk mengambil uang, saya selalu ketakutan. Di mata saya dia begitu jahat. Bukankah dia kaya? Apalah artinya kaca spion mobil baginya? Tidakah dia berbelas kasihan melihat kondisi ibu dan kami yang hanya menumpang di sebuah garasi?
Saya tidak habis mengerti betapa teganya dia. Apalagi jika melihat wajah ibu juga gelisah menjelang saat-saat pembayaran tiba. Saya benci pemilik mobil itu. Saya benci orang-orang yang naik mobil mahal. Saya benci orang kaya.
Untuk menyalurkan kebencian itu, sering saya mengempeskan ban mobil-mobil mewah. Bahkan anak-anak orang kaya menjadi sasaran saya. Jika musim layangan, saya main ke kompleks perumahan orang-orang kaya. Saya menawarkan jasa menjadi tukang gulung benang gelasan ketika mereka adu layangan. Pada saat mereka sedang asyik, diam-diam benangnya saya putus dan gulungan benang gelasannya saya bawa lari. Begitu berkali-kali. Setiap berhasil melakukannya, saya puas. Ada dendam yang terbalaskan.
Sampai remaja perasaan itu masih ada. Saya muak melihat orang-orang kaya di dalam mobil mewah. Saya merasa semua orang yang naik mobil mahal jahat. Mereka orang-orang yang tidak punya belas kasihan. Mereka tidak punya hati nurani.
Nah, ketika sudah bekerja dan rindu pada gado-gado yang dulu semasa kuliah begitu lezat, saya dihadapkan pada kenyataan rasa gado-gado itu tidak enak di lidah. Saya gundah. Jangan-jangan sayalah yang sudah berubah. Hal yang sangat saya takuti. Kegundahan itu saya utarakan kepada istri. Dia hanya tertawa. ''Andy Noya, kamu tidak usah merasa bersalah. Kalau gado-gado langgananmu dulu tidak lagi nikmat, itu karena sekarang kamu sudah pernah merasakan berbagai jenis makanan. Dulu mungkin kamu hanya bisa makan gado-gado di pinggir jalan. Sekarang, apalagi sebagai wartawan, kamu punya kesempatan mencoba makanan yang enak-enak. Citarasamu sudah meningkat,'' ujarnya. Ketika dia melihat saya tetap gundah, istri saya mencoba meyakinkan, "Kamu berhak untuk itu. Sebab kamu sudah bekerja keras."
Tidak mudah untuk untuk menghilangkan perasaan bersalah itu. Sama sulitnya dengan meyakinkan diri saya waktu itu bahwa tidak semua orang kaya itu jahat. Dengan karir yang terus meningkat dan gaji yang saya terima, ada ketakutan saya akan berubah. Saya takut perasaan saya tidak lagi sensisitif. Itulah kegundahan hati saya setelah makan gado-gado yang berubah rasa. Saya takut bukan rasa gado-gado yang berubah, tetapi sayalah yang berubah. Berubah menjadi sombong.
Ketakutan itu memang sangat kuat. Saya tidak ingin menjadi tidak sensitif. Saya tidak ingin menjadi seperti pemilik mobil yang kaca spionnya saya tabrak.
Kesadaran semacam itu selalu saya tanamkan dalam hati. Walau dalam kehidupan sehari-hari sering menghadapi ujian. Salah satunya ketika mobil saya ditabrak sepeda motor dari belakang. Penumpang dan orang yang dibonceng terjerembab. Pada siang terik, ketika jalanan macet, ditabrak dari belakang, sungguh ujian yang berat untuk tidak marah. Rasanya ingin melompat dan mendamprat pemilik motor yang menabrak saya. Namun, saya terkejut ketika menyadari yang dibonceng adalah seorang ibu tua dengan kebaya lusuh. Pengemudi motor adalah anaknya. Mereka berdua pucat pasi. Selain karena terjatuh, tentu karena melihat mobil saya penyok.
Hanya dalam sekian detik bayangan masa kecil saya melintas. Wajah pucat itu serupa dengan wajah saya ketika menabrak kaca spion. Wajah yang merefleksikan ketakutan akan akibat yang harus mereka tanggung. Sang ibu, yang lecet-lecet di lutut dan sikunya, berkali-kali meminta maaf atas keteledoran anaknya. Dengan mengabaikan lukanya, dia berusaha meluluhkan hati saya. Setidaknya agar saya tidak menuntut ganti rugi. Sementara sang anak terpaku membisu. Pucat pasi. Hati yang panas segera luluh. Saya tidak ingin mengulang apa yang pernah terjadi pada saya. Saya tidak boleh membiarkan benih kebencian lahir siang itu. Apalah artinya mobil yang penyok berbanding beban yang harus mereka pikul.
Maka saya bersyukur. Bersyukur pernah berada di posisi mereka. Dengan begitu saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Setidaknya siang itu saya tidak ingin lahir sebuah benih kebencian. Kebencian seperti yang pernah saya rasakan dulu. Kebencian yang lahir dari pengalaman hidup yang pahit.
Sejak bekerja saya tidak pernah lagi berkunjung ke Perpustakaan Soemantri Brodjonegoro di Jalan Rasuna Said, Jakarta . Tapi, suatu hari ada kerinduan dan dorongan yang luar biasa untuk ke sana . Bukan untuk baca buku, melainkan makan gado-gado di luar pagar perpustakaan. Gado-gado yang dulu selalu membuat saya ngiler. Namun baru dua tiga suap, saya merasa gado-gado yang masuk ke mulut jauh dari bayangan masa lalu. Bumbu kacang yang dulu ingin saya jilat sampai piringnya mengkilap, kini rasanya amburadul. Padahal ini gado-gado yang saya makan dulu. Kain penutup hitamnya sama. Penjualnya juga masih sama. Tapi mengapa rasanya jauh berbeda?
Malamnya, soal gado-gado itu saya ceritakan kepada istri. Bukan soal rasanya yang mengecewakan, tetapi ada hal lain yang membuat saya gundah.
Sewaktu kuliah, hampir setiap siang, sebelum ke kampus saya selalu mampir ke perpustakaan Soemantri Brodjonegoro. Ini tempat favorit saya. Selain karena harus menyalin bahan-bahan pelajaran dari buku-buku wajib yang tidak mampu saya beli, berada di antara ratusan buku membuat saya merasa begitu bahagia. Biasanya satu sampai dua jam saya di sana . Jika masih ada waktu, saya melahap buku-buku yang saya minati. Bau harum buku, terutama buku baru, sungguh membuat pikiran terang dan hati riang. Sebelum meninggalkan perpustakaan, biasanya saya singgah di gerobak gado-gado di sudut jalan, di luar pagar. Kain penutupnya khas, warna hitam. Menurut saya, waktu itu, inilah gado-gado paling enak seantero Jakarta . Harganya Rp 500 sepiring sudah termasuk lontong. Makan sepiring tidak akan pernah puas. Kalau ada uang lebih, saya pasti nambah satu piring lagi. Tahun berganti tahun. Drop out dari kuliah, saya bekerja di Majalah TEMPO sebagai reporter buku Apa dan Siapa Orang Indonesia . Kemudian pindah menjadi reporter di Harian Bisnis Indonesia . Setelah itu menjadi redaktur di Majalah MATRA. Karir saya terus meningkat hingga menjadi pemimpin redaksi di Harian Media Indonesia dan Metro TV.
Sampai suatu hari, kerinduan itu datang. Saya rindu makan gado-gado di sudut jalan itu. Tetapi ketika rasa gado-gado berubah drastis, saya menjadi gundah. Kegundahan yang aneh. Kepada istri saya utarakan kegundahan tersebut. Saya risau saya sudah berubah dan tidak lagi menjadi diri saya sendiri. Padahal sejak kecil saya berjanji jika suatu hari kelak saya punya penghasilan yang cukup, punya mobil sendiri, dan punya rumah sendiri, saya tidak ingin berubah. Saya tidak ingin menjadi sombong karenanya.
Hal itu berkaitan dengan pengalaman masa kecil saya di Surabaya . Sejak kecil saya benci orang kaya. Ada kejadian yang sangat membekas dan menjadi trauma masa kecil saya. Waktu itu umur saya sembilan tahun. Saya bersama seorang teman berboncengan sepeda hendak bermain bola. Sepeda milik teman yang saya kemudikan menyerempet sebuah mobil. Kaca spion mobil itu patah.
Begitu takutnya, bak kesetanan saya berlari pulang. Jarak 10 kilometer saya tempuh tanpa berhenti. Hampir pingsan rasanya. Sesampai di rumah saya langsung bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Upaya yang sebenarnya sia-sia. Sebab waktu itu kami hanya tinggal di sebuah garasi mobil, di Jalan Prapanca. Garasi mobil itu oleh pemiliknya disulap menjadi kamar untuk disewakan kepada kami. Dengan ukuran kamar yang cuma enam kali empat meter, tidak akan sulit menemukan saya. Apalagi tempat tidur di mana saya bersembunyi adalah satu-satunya tempat tidur di ruangan itu. Tak lama kemudian, saya mendengar keributan di luar. Rupanya sang pemilik mobil datang. Dengan suara keras dia marah-marah dan mengancam ibu saya. Intinya dia meminta ganti rugi atas kerusakan mobilnya.
Pria itu, yang cuma saya kenali dari suaranya yang keras dan tidak bersahabat, akhirnya pergi setelah ibu berjanji akan mengganti kaca spion mobilnya. Saya ingat harga kaca spion itu Rp 2.000. Tapi uang senilai itu, pada tahun 1970, sangat besar. Terutama bagi ibu yang mengandalkan penghasilan dari menjahit baju. Sebagai gambaran, ongkos menjahit baju waktu itu Rp 1.000 per potong. Satu baju memakan waktu dua minggu. Dalam sebulan, order jahitan tidak menentu. Kadang sebulan ada tiga, tapi lebih sering cuma satu. Dengan penghasilan dari menjahit itulah kami – ibu, dua kakak, dan saya – harus bisa bertahan hidup sebulan.
Setiap bulan ibu harus mengangsur ganti rugi kaca spion tersebut. Setiap akhir bulan sang pemilik mobil, atau utusannya, datang untuk mengambil uang. Begitu berbulan-bulan. Saya lupa berapa lama ibu harus menyisihkan uang untuk itu. Tetapi rasanya tidak ada habis-habisnya. Setiap akhir bulan, saat orang itu datang untuk mengambil uang, saya selalu ketakutan. Di mata saya dia begitu jahat. Bukankah dia kaya? Apalah artinya kaca spion mobil baginya? Tidakah dia berbelas kasihan melihat kondisi ibu dan kami yang hanya menumpang di sebuah garasi?
Saya tidak habis mengerti betapa teganya dia. Apalagi jika melihat wajah ibu juga gelisah menjelang saat-saat pembayaran tiba. Saya benci pemilik mobil itu. Saya benci orang-orang yang naik mobil mahal. Saya benci orang kaya.
Untuk menyalurkan kebencian itu, sering saya mengempeskan ban mobil-mobil mewah. Bahkan anak-anak orang kaya menjadi sasaran saya. Jika musim layangan, saya main ke kompleks perumahan orang-orang kaya. Saya menawarkan jasa menjadi tukang gulung benang gelasan ketika mereka adu layangan. Pada saat mereka sedang asyik, diam-diam benangnya saya putus dan gulungan benang gelasannya saya bawa lari. Begitu berkali-kali. Setiap berhasil melakukannya, saya puas. Ada dendam yang terbalaskan.
Sampai remaja perasaan itu masih ada. Saya muak melihat orang-orang kaya di dalam mobil mewah. Saya merasa semua orang yang naik mobil mahal jahat. Mereka orang-orang yang tidak punya belas kasihan. Mereka tidak punya hati nurani.
Nah, ketika sudah bekerja dan rindu pada gado-gado yang dulu semasa kuliah begitu lezat, saya dihadapkan pada kenyataan rasa gado-gado itu tidak enak di lidah. Saya gundah. Jangan-jangan sayalah yang sudah berubah. Hal yang sangat saya takuti. Kegundahan itu saya utarakan kepada istri. Dia hanya tertawa. ''Andy Noya, kamu tidak usah merasa bersalah. Kalau gado-gado langgananmu dulu tidak lagi nikmat, itu karena sekarang kamu sudah pernah merasakan berbagai jenis makanan. Dulu mungkin kamu hanya bisa makan gado-gado di pinggir jalan. Sekarang, apalagi sebagai wartawan, kamu punya kesempatan mencoba makanan yang enak-enak. Citarasamu sudah meningkat,'' ujarnya. Ketika dia melihat saya tetap gundah, istri saya mencoba meyakinkan, "Kamu berhak untuk itu. Sebab kamu sudah bekerja keras."
Tidak mudah untuk untuk menghilangkan perasaan bersalah itu. Sama sulitnya dengan meyakinkan diri saya waktu itu bahwa tidak semua orang kaya itu jahat. Dengan karir yang terus meningkat dan gaji yang saya terima, ada ketakutan saya akan berubah. Saya takut perasaan saya tidak lagi sensisitif. Itulah kegundahan hati saya setelah makan gado-gado yang berubah rasa. Saya takut bukan rasa gado-gado yang berubah, tetapi sayalah yang berubah. Berubah menjadi sombong.
Ketakutan itu memang sangat kuat. Saya tidak ingin menjadi tidak sensitif. Saya tidak ingin menjadi seperti pemilik mobil yang kaca spionnya saya tabrak.
Kesadaran semacam itu selalu saya tanamkan dalam hati. Walau dalam kehidupan sehari-hari sering menghadapi ujian. Salah satunya ketika mobil saya ditabrak sepeda motor dari belakang. Penumpang dan orang yang dibonceng terjerembab. Pada siang terik, ketika jalanan macet, ditabrak dari belakang, sungguh ujian yang berat untuk tidak marah. Rasanya ingin melompat dan mendamprat pemilik motor yang menabrak saya. Namun, saya terkejut ketika menyadari yang dibonceng adalah seorang ibu tua dengan kebaya lusuh. Pengemudi motor adalah anaknya. Mereka berdua pucat pasi. Selain karena terjatuh, tentu karena melihat mobil saya penyok.
Hanya dalam sekian detik bayangan masa kecil saya melintas. Wajah pucat itu serupa dengan wajah saya ketika menabrak kaca spion. Wajah yang merefleksikan ketakutan akan akibat yang harus mereka tanggung. Sang ibu, yang lecet-lecet di lutut dan sikunya, berkali-kali meminta maaf atas keteledoran anaknya. Dengan mengabaikan lukanya, dia berusaha meluluhkan hati saya. Setidaknya agar saya tidak menuntut ganti rugi. Sementara sang anak terpaku membisu. Pucat pasi. Hati yang panas segera luluh. Saya tidak ingin mengulang apa yang pernah terjadi pada saya. Saya tidak boleh membiarkan benih kebencian lahir siang itu. Apalah artinya mobil yang penyok berbanding beban yang harus mereka pikul.
Maka saya bersyukur. Bersyukur pernah berada di posisi mereka. Dengan begitu saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Setidaknya siang itu saya tidak ingin lahir sebuah benih kebencian. Kebencian seperti yang pernah saya rasakan dulu. Kebencian yang lahir dari pengalaman hidup yang pahit.
6.9.08
Arti Waktu
Topik :
Mencoba untuk Bijak
Bayangkan ada sebuah bank yang memberimu pinjaman uang sejumlah Rp. 86.400,- setiap paginya.
Semua uang itu harus kau gunakan.
Pada malam hari, bank akan menghapus sisa uang yang tidak kau gunakan selama sehari. Coba tebak, apa yang akan kau lakukan? Tentu saja, menghabiskan semua uang pinjaman itu.
Setiap dari kita memiliki bank semacam itu; bernama WAKTU. Setiap pagi,
ia akan memberimu 86.400 detik. Pada malam harinya ia akan menghapus sisa waktu yang tidak kau gunakan untuk tujuan baik, karena ia tidak memberikan sisa
waktunya padamu. Ia juga tidak memberikan waktu tambahan. Setiap hari ia akan
membuka satu rekening baru untukmu. Setiap malam ia akan menghanguskan yang
tersisa. Jika kau tidak menggunakannya maka kerugian akan meninpamu.
Kamu tidak bisa menariknya kembali. Juga, kamu tidak bisa meminta "uang
muka" untuk keesokan hari. Kamu harus hidup di dalam simpanan hari ini. Maka
dari itu, investasikanlah untuk kesehatan, kebahagiaan, dan kesuksesanmu.
Jam terus berdetak. Gunakan waktumu sebaik-baiknya.
Agar tahu pentingnya waktu SETAHUN, tanyakan pada murid yang gagal kelas.
Agar tahu pentingnya waktu SEBULAN, tanyakan pada ibu yang melahirkan prematur.
Agar tahu pentingnya waktu SEMINGGU, tanyakan pada editor majalah mingguan.
Agar tahu pentingnya waktu SEJAM, tanyakan pada kekasih yang menunggu untuk bertemu.
Agar tahu pentingnya waktu SEMENIT, tanyakan pada orang yang ketinggalan kereta.
Agar tahu pentingnya waktu SEDETIK, tanyakan pada orang yang baru saja terhindar dari kecelakaan.
Agar tahu pentingnya waktu SEMILI DETIK, tanyakan pada peraih medali perak Olimpiade.
Semua uang itu harus kau gunakan.
Pada malam hari, bank akan menghapus sisa uang yang tidak kau gunakan selama sehari. Coba tebak, apa yang akan kau lakukan? Tentu saja, menghabiskan semua uang pinjaman itu.
Setiap dari kita memiliki bank semacam itu; bernama WAKTU. Setiap pagi,
ia akan memberimu 86.400 detik. Pada malam harinya ia akan menghapus sisa waktu yang tidak kau gunakan untuk tujuan baik, karena ia tidak memberikan sisa
waktunya padamu. Ia juga tidak memberikan waktu tambahan. Setiap hari ia akan
membuka satu rekening baru untukmu. Setiap malam ia akan menghanguskan yang
tersisa. Jika kau tidak menggunakannya maka kerugian akan meninpamu.
Kamu tidak bisa menariknya kembali. Juga, kamu tidak bisa meminta "uang
muka" untuk keesokan hari. Kamu harus hidup di dalam simpanan hari ini. Maka
dari itu, investasikanlah untuk kesehatan, kebahagiaan, dan kesuksesanmu.
Jam terus berdetak. Gunakan waktumu sebaik-baiknya.
Agar tahu pentingnya waktu SETAHUN, tanyakan pada murid yang gagal kelas.
Agar tahu pentingnya waktu SEBULAN, tanyakan pada ibu yang melahirkan prematur.
Agar tahu pentingnya waktu SEMINGGU, tanyakan pada editor majalah mingguan.
Agar tahu pentingnya waktu SEJAM, tanyakan pada kekasih yang menunggu untuk bertemu.
Agar tahu pentingnya waktu SEMENIT, tanyakan pada orang yang ketinggalan kereta.
Agar tahu pentingnya waktu SEDETIK, tanyakan pada orang yang baru saja terhindar dari kecelakaan.
Agar tahu pentingnya waktu SEMILI DETIK, tanyakan pada peraih medali perak Olimpiade.
4.9.08
Risalah Ramadhan
Topik :
Yang Ringan
Risalah Ramadhan
Betapa besarnya nilai uang kertas senilai Rp.100.000 apabila dibawa ke masjid untuk disumbangkan; tetapi betapa kecilnya kalau dibawa ke Mall untukdibelanjakan!
Betapa lamanya melayani Allah SWT selama lima belas menit namun betapa singkatnya kalau kita melihat film.
Betapa sulitnya untuk mencari kata-kata ketika berdoa (spontan) namun betapa mudahnya kalau mengobrol atau bergosip dengan pacar / temantanpa harus berpikir panjang-panjang.
Betapa asyiknya apabila pertandingan bola diperpanjang waktunya ekstra namun kita mengeluh ketika khotbah di masjid lebih lama sedikit daripada biasa.
Betapa sulitnya untuk membaca satu lembar Al-qur'an tapi betapa mudahnya membaca 100 halaman dari novel yang laris.
Betapa getolnya orang untuk duduk di depan dalam pertandingan atau konser namun lebih senang berada di shaf paling belakang ketika berada di Masjid
Betapa mudahnya membuat 40 tahun dosa demi memuaskan nafsu birahi semata,namun alangkah sulitnya ketika menahan nafsu selama 30 hari ketika berpuasa.
Betapa sulitnya untuk menyediakan waktu untuk sholat 5 waktu; namun betapa mudahnya menyesuaikan waktu dalam sekejap pada saat terakhir untuk event yang menyenangkan.
Betapa sulitnya untuk mempelajari arti yang terkandung di dalam Al Qur'an; namun betapa mudahnya untuk mengulang-ulangi gosip yang sama kepada orang lain.
Betapa mudahnya kita mempercayai apa yang dikatakan oleh koran namun betapa kita meragukan apa yang dikatakan oleh Kitab Suci Al Qur’an.
Betapa takutnya kita apabila dipanggil Boss dan cepat-cepat menghadapnya namun betapa kita berani dan lamanya untuk menghadapNya saat kumandang azan menggema. Betapa setiap orang ingin masuk sorga seandainya tidak perlu untuk percaya atau berpikir atau mengatakan apa-apa atau berbuat apa-apa.
Betapa kita dapat menyebarkan seribu lelucon melalui e-mail, dan menyebarluaskannya dengan FORWARD seperti api;namun kalau ada mail yang isinya tentang Keagungan ALLAH SWT betapa seringnyakita ragu-ragu, enggan membukanya dan mensharingkannya, serta langsung klik pada icon DELETE.
ANDA TERTAWA? atau ANDA BERPIKIR-PIKIR?
Sebar luaskanlah Sabda-Nya, bersyukurlahkepada ALLAH SWT, YANG MAHA MENGETAHUI, MENDENGAR, PENGASIH DAN PENYAYANG.
Apakah tidak lucu apabila anda tidak memFORWARD pesan ini. Betapa banyak orang tidak akan menerima pesan ini, karena anda tidak yakin bahwa mereka masih percaya akan sesuatu? .
Betapa besarnya nilai uang kertas senilai Rp.100.000 apabila dibawa ke masjid untuk disumbangkan; tetapi betapa kecilnya kalau dibawa ke Mall untukdibelanjakan!
Betapa lamanya melayani Allah SWT selama lima belas menit namun betapa singkatnya kalau kita melihat film.
Betapa sulitnya untuk mencari kata-kata ketika berdoa (spontan) namun betapa mudahnya kalau mengobrol atau bergosip dengan pacar / temantanpa harus berpikir panjang-panjang.
Betapa asyiknya apabila pertandingan bola diperpanjang waktunya ekstra namun kita mengeluh ketika khotbah di masjid lebih lama sedikit daripada biasa.
Betapa sulitnya untuk membaca satu lembar Al-qur'an tapi betapa mudahnya membaca 100 halaman dari novel yang laris.
Betapa getolnya orang untuk duduk di depan dalam pertandingan atau konser namun lebih senang berada di shaf paling belakang ketika berada di Masjid
Betapa mudahnya membuat 40 tahun dosa demi memuaskan nafsu birahi semata,namun alangkah sulitnya ketika menahan nafsu selama 30 hari ketika berpuasa.
Betapa sulitnya untuk menyediakan waktu untuk sholat 5 waktu; namun betapa mudahnya menyesuaikan waktu dalam sekejap pada saat terakhir untuk event yang menyenangkan.
Betapa sulitnya untuk mempelajari arti yang terkandung di dalam Al Qur'an; namun betapa mudahnya untuk mengulang-ulangi gosip yang sama kepada orang lain.
Betapa mudahnya kita mempercayai apa yang dikatakan oleh koran namun betapa kita meragukan apa yang dikatakan oleh Kitab Suci Al Qur’an.
Betapa takutnya kita apabila dipanggil Boss dan cepat-cepat menghadapnya namun betapa kita berani dan lamanya untuk menghadapNya saat kumandang azan menggema. Betapa setiap orang ingin masuk sorga seandainya tidak perlu untuk percaya atau berpikir atau mengatakan apa-apa atau berbuat apa-apa.
Betapa kita dapat menyebarkan seribu lelucon melalui e-mail, dan menyebarluaskannya dengan FORWARD seperti api;namun kalau ada mail yang isinya tentang Keagungan ALLAH SWT betapa seringnyakita ragu-ragu, enggan membukanya dan mensharingkannya, serta langsung klik pada icon DELETE.
ANDA TERTAWA? atau ANDA BERPIKIR-PIKIR?
Sebar luaskanlah Sabda-Nya, bersyukurlahkepada ALLAH SWT, YANG MAHA MENGETAHUI, MENDENGAR, PENGASIH DAN PENYAYANG.
Apakah tidak lucu apabila anda tidak memFORWARD pesan ini. Betapa banyak orang tidak akan menerima pesan ini, karena anda tidak yakin bahwa mereka masih percaya akan sesuatu? .
2.9.08
LocalCooling: Solusi Komputer Dingin & Hemat Energi
Topik :
Yang Ringan
Jujur... Lagi-lagi ini copy paste...
Tapi sepertinya bermanfaat, jadi kenapa tidak?
Komputer masa kini adalah komputer yang boros konsumsi listrik dan panas. Tapi dengan software LocalCooling hal tersebut dapat di atasi.
Beberapa waktu yang lalu komputer kami mengalami overheat akibat tidak berfungsinya salah satu kipas pada casing CPU. Temperatur CPU bisa mencapai di atas 90 derajat Celcius dan otomatis komputer shutdown sendiri (proteksi dari BIOS), terutama ketika sedang bermain game 3D.
Beberapa langkah kami lakukan untuk 'mendinginkan' kembali CPU, tapi solusi yang ada tidak ada yang gratis, sampai akhirnya kami menemukan LocalCooling.
Dengan tema selamatkan dunia dari pemanasan global, ternyata software yang satu ini sangat 'COOL', dan merupakan solusi gratis terbaik untuk komputer yang dingin serta hemat energi. Selain itu software ini memiliki fitur-fitur keren seperti shutdown otomatis, membuat kerja CPU lebih efisiensi dan bisa mendeteksi pemakaian listrik pada seluruh komponen komputer.
LocalCooling juga menjadi Gold Certified Partner dari Microsoft di dalam menghemat energi dan mengurangi pemanasan global.
Program ini sangat bagus juga dipakai di laptop (notebook) dimana konsumsi listrik pada laptop akan lebih hemat, batere tidak akan cepat soak dan pemakaiannya sendiri akan lebih tahan lama tanpa perlu mencharge batere lebih sering.
Tertarik? Silahkan download di sini
Tapi sepertinya bermanfaat, jadi kenapa tidak?
Komputer masa kini adalah komputer yang boros konsumsi listrik dan panas. Tapi dengan software LocalCooling hal tersebut dapat di atasi.
Beberapa waktu yang lalu komputer kami mengalami overheat akibat tidak berfungsinya salah satu kipas pada casing CPU. Temperatur CPU bisa mencapai di atas 90 derajat Celcius dan otomatis komputer shutdown sendiri (proteksi dari BIOS), terutama ketika sedang bermain game 3D.
Beberapa langkah kami lakukan untuk 'mendinginkan' kembali CPU, tapi solusi yang ada tidak ada yang gratis, sampai akhirnya kami menemukan LocalCooling.
Dengan tema selamatkan dunia dari pemanasan global, ternyata software yang satu ini sangat 'COOL', dan merupakan solusi gratis terbaik untuk komputer yang dingin serta hemat energi. Selain itu software ini memiliki fitur-fitur keren seperti shutdown otomatis, membuat kerja CPU lebih efisiensi dan bisa mendeteksi pemakaian listrik pada seluruh komponen komputer.
LocalCooling juga menjadi Gold Certified Partner dari Microsoft di dalam menghemat energi dan mengurangi pemanasan global.
Program ini sangat bagus juga dipakai di laptop (notebook) dimana konsumsi listrik pada laptop akan lebih hemat, batere tidak akan cepat soak dan pemakaiannya sendiri akan lebih tahan lama tanpa perlu mencharge batere lebih sering.
Tertarik? Silahkan download di sini
30.8.08
Ayah........Maafkan........Aku......... (Touching Story)
Topik :
Mencoba untuk Bijak
Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur.
Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.
Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya... karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.
Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.
Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, "Kerjaan siapa ini !!!" ....
Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ' Saya tidak tahu..tuan." "Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?" hardik si isteri lagi.
Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata "DIta yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik ...kan!" katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.
Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan.
Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa... Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.
Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. "Oleskan obat saja!" jawab bapak si anak.
Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. "Dita demam, Bu"...jawab pembantunya ringkas. "Kasih minum panadol aja ," jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. "Sore nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 sudah siap" kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. "Tidak ada pilihan.." kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut..."Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah" kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.
Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. "Ayah.. ibu... Dita tidak akan melakukannya lagi.... Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi... Dita sayang ayah.. sayang ibu.", katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. "Dita juga sayang Mbok
Narti.." katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.
"Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?... Bagaimana Dita mau bermain nanti?... Dita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi, " katanya berulang-ulang.
Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf…..
Tahun demi tahun kedua orang tua tsb menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi...,
Namun..., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tsb tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya..
NB: Cerita ini sangat menginspirasi untuk semua orang tua dan semua yang akan berkeluarga atau bahkan bisa menjadi inspirasi untuk menjadi orang tua yang bijak bahwa semua perlu sebuah kelembutan untuk menghadapi anak kita nanti
Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.
Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya... karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.
Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.
Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, "Kerjaan siapa ini !!!" ....
Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ' Saya tidak tahu..tuan." "Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?" hardik si isteri lagi.
Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata "DIta yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik ...kan!" katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.
Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan.
Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa... Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.
Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. "Oleskan obat saja!" jawab bapak si anak.
Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. "Dita demam, Bu"...jawab pembantunya ringkas. "Kasih minum panadol aja ," jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. "Sore nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 sudah siap" kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. "Tidak ada pilihan.." kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut..."Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah" kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.
Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. "Ayah.. ibu... Dita tidak akan melakukannya lagi.... Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi... Dita sayang ayah.. sayang ibu.", katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. "Dita juga sayang Mbok
Narti.." katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.
"Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?... Bagaimana Dita mau bermain nanti?... Dita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi, " katanya berulang-ulang.
Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf…..
Tahun demi tahun kedua orang tua tsb menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi...,
Namun..., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tsb tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya..
NB: Cerita ini sangat menginspirasi untuk semua orang tua dan semua yang akan berkeluarga atau bahkan bisa menjadi inspirasi untuk menjadi orang tua yang bijak bahwa semua perlu sebuah kelembutan untuk menghadapi anak kita nanti
Subscribe to:
Posts (Atom)



